"Kamu gimana sekarang? Sama siapa?"

"Aku baik. Sekarang lagi sama guling. Hahaha."
"Serius, Nyuk. Tumben betah lama-lama ngejomblo?"
"Lama-lama ngejomblo? Baru 3 bulan ini. Masih bentar, ah."
"Perasaan itu udah lama deh. Biasanya kamu kan cepet MOVE ON."

Oke, cukup. Obrolan di atas adalah percakapan saya dengan Rani, teman akrab saya dari SMP, beberapa hari lalu melalui pesan singkat. Dia tahu, 3 bulan yang lalu saya mengadu terisak tentang perpisahan dan resmi kembali menjalani rutinitas sendiri.
Ada ucapannya yang membuat saya mengernyit, tentang move on dan "lama menjomblo". Teman saya ini, sepertinya melabeli move on dengan "telah menemukan seseorang yang baru". Tidak, saya tidak sependapat dengan pemahamannya tersebut. Umm...

Read More ...


Kalau ada kesempatan untuk membenci, adalah kamu, yang pertama dalam daftar urutan "Orang Yang Layak Dibenci".
Jangan tanya apa alasannya, kamu cukup tau itu, pun mungkin semesta juga mengetahuinya — aku menginginkan kamu enyah dari hadapanku. Atau, melemparmu ke galaksi lain. Sayangnya, kamu masih duduk termenung di otak kananku — menjadi imajinasi. Setelah dengan sukses kamu mengitariku, berlari ke sudut otak kiriku — logis dan linier. Kemudian kamu bersemayam dalam hatiku — bermain-main dengan perasaan. Bahkan sedikitpun kamu tak memberiku kesempatan mengambil jarak. Seperti kamu tertawa puas, "Hahaha. Kamu nggak akan bisa lepas dari aku."
Biadab!

Read More ...


"kretek kretek" di lantai halaman
"kretek kretek" di atap
"kretek kretek" menceracau di setiap kuping mendengar.

"tes tes" di sudut genteng rumah
"tes tes" di daun jendela
"tes tes" menelisik di setiap sudut mata memandang.

Pada buncahan Rahmat yang berkejaran dari gumpalan awan
Gemeretek tak ubahnya peri dengan tarian
Pada setiap tetes yang diiringi malaikat
Menerawang di sela jendela dengan khidmat.

Tapi sembilu kian menyayat
Bayangan dikejarnya tenggelam menepis.
Kaki-kaki basah, bibir memucat
Menyisakan bulir mengintip di sudut pelipis.
Pekat.


Aku seperti memelihara luka, membiarkan rindu dan kecewa bercokol di benak yang sungguh aku
dibuat tersungkur olehnya.
Ketika untaian dari semua doa-doa runtuh, menghujaniku bertubi-tubi tanpa ampun, memaksaku
menenggak air asin yang buncah di sudut mata. Aku bertanya pada detak jam, pada degup jantung, pada helaan napas, kapan cahaya itu datang menjemput? Cahaya yang dijanjikan menyiratkan larik-larik senyum.

Read More ...


Ngga tau kenapa kayaknya malam ini berasa hambar banget. Kosong. Dan bukannya tanpa kerjaan apa-apa. Tapi malah mengabaikan tugas kuliah. Malas! Begitu mungkin lebih tepatnya. Bahkan otak ngga bisa lebih produktif dari kemarin. Yang seperti ini mungkin perlu dinikmati. Kenapa? Karena ngga tau juga apa yang harus dipikirin, apa yang harus dirasain, apa yang harus dilakuin. Anggap aja ini alienasi malam. Kemana-mana linglung. Ngga ada selera. Ngga ada mood. Tapi kenapa masih mau nulis? Karena ini adalah satu-satunya cara paling ampuh membunuh kekosongan. Sambil menghadap layar 14 inch, memasang headset di kuping, dan biar berasa rame ada temennya sembari mendengarkan Barisan Nisannya Homicide.

Buku Sepatu Dahlanpun ngga bisa merayu gairah untuk membaca. Mungkin sebaiknya tidur atau duduk diem, tapi kantukpun tak kunjung bergelayut. Ah, stargazing mungkin? Bahkan kondisi sekarang ngga mendukung buat ngelakuin hal itu. Hal yang sekarang udah jadi hobi, setelah bermalas-malasan. Ayolah mau sampe kapan malas, bukannya otak terkadang udah tersinkronisasi sama hati? Bisa dong harusnya mengendalikan semua yang ada di diri sendiri, menurut Quantum Ikhlas gitu kan? Sayangnya seperti kata salah seorang teman, (mungkin) terlalu banyak membaca buku hanya akan menjadikan kita orang yang teoritis, yang prakteknya nihil. Huh!

Dan facebook. Dan twitter. Social media lainnya, semua berasa garing, ngebosenin.
YM. Skype. Emang mau video call-an sama siapa? Punya temen? Bukannya udah ngerasa jadi anti sosial? Dua, selain nulis adalah musik termasuk "pacar" yang paling setia. Ah sudahlah, sebaiknya tidur.


Amelia. Powered by Blogger.