“I'm beginning to think that love for me is a bit like Quantum Mechanics, something I know to exist, but have no idea how it works.” 
― R.E. Wentz, A Tropical Depression
Kun, aku agak kecewa tempo hari, alih-alih mendapat jawaban scientific tentang teori Mekanika Kuantum yang aku tanyakan, kamu menumpahkan ketakutanmu untuk jatuh cinta pada pria, yang katamu sih sudah memenuhi kriteriamu. Iya, pria grizzly bear itu.

Oh, untung saja aku teman yang sangat pengertian. Untuk malam-malam sendumu di Tanah Parahyangan, mungkin kamu perlu kutemani dengan playlist berikut sampai kamu berhasil membunuh perasaanmu tersebut.

1. Amiina – Rugla
2. Sucré – Stuck in the Ocean
3. Jill Andrews – Cut and Run
4. The Honey Trees – Love and Loss
5. First Aid Kit – To a Poet
6. Laura Marling – My Manic and I
7. Sóley – The Sun is Going Down II
8. Lykke Li – Possibility
9. Bat for Lashes – The Haunted Man
10. Amiina - What are We Waiting for?

Silakan mendengarkannya di sini. Semoga kamu selalu kesepian, karena kesepianmu lah yang terus memantik kehangatan di antara kita. Hahaha.


Peluk hangat dari Surabaya,

Amelia.


Addendum:
Aku tahu setelah membaca ini pasti kamu akan memprotes untuk mengirimkan file mixtapenya. Tenang. Lagi-lagi aku adalah teman yang sangat pengertian, silakan mengunduhnya di sini.


Untuk sebagian orang –mereka mungkin menganggap hal ini tidak penting dan buang-buang waktu. Aneh. Mengingat mantan. Mengenang masa dimana kita pernah mencecap romantika bersama seseorang yang dulu pernah mengaitkan jemarinya dengan jemari kita. Seperti membuka peti yang telah kita tutup rapat-rapat dan di dalamnya berisi benda-benda magis yang membuat sel-sel pada serebrum kita diributkan dengan serpihan-serpihan kenangan yang perlahan lindap tergilas waktu.

Barangkali kita bisa duduk sejenak di dalam kamar dengan secangkir teh hangat. Sekedar mengenang yang telah lewat. Menyaksikan kembali sebuah fragmen tentang masa lalu yang kita habiskan dengan seseorang yang dulu lalu-lalang dalam hari-hari kita. Dengan beberapa lagu penghantar yang kita masukkan dalam sebuah playlist. Untuk saya, lagu-lagu penghantar tersebut adalah:

1. Compromised Ego – Remembering All The Kisses
Sebelum terkenal pada ajang pencarian bakat, Isa Raja lebih dulu dikenal sebagai vokalis Compromised Ego dengan nama Inong Loebis. Dan berhasil menelurkan sebuah mini album berjudul A Beautiful Mess. Remembering All The Kisses adalah salah satu lagu pamungkas dalam mini album perdana mereka. Pun liriknya yang mewakili perasaan pedih kala mengingat seseorang yang memilih untuk tak menyamakan langkahnya lagi dengan kita.
I grab my coat and I walk my feet
In to the night, wishing you were there
2. Pure Saturday – Sajak Melawan Waktu
Ada perasaan kosong ketika kita ditinggal atau meninggalkan seseorang. Terbiasa melewatkan hari bersama lantas semua lenyap begitu saja. Sepedih apapun perasaan ditinggal atau meninggalkan, waktu akan terus menuntun kita maju. Melalui Sajak Melawan Waktu, grup musik indie pop asal Bandung ini menemani kita menyusuri lorong gelap dengan tangan terus meraba dinding yang penuh dengan gambar yang dulu kita lukis bersamanya.

Read More ...


Apa yang ada di otak kalian jika mendengar kata Valentine? Pacar, coklat, bunga, dinner, semua yang serba coklat, yang serba pink, yang serba merah. Cih. Apa pula itu? Kalau yang serba merah saya setuju karena saya suka dengan merah. Terlepas dari agama yang saya anut telah melarang perayaan Valentine, bahkan mengecamnya, toh nggak sedikit pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk asmara dengan gencarnya sibuk menyiapkan tetek bengek untuk merayakan Valentine dengan pacarnya. Sungguh nista. Sungguh mereka tidak ber-perikejomblo-an.

Sedangkan bagaimana dengan nasib jomblowan-jomblowati di hari-serba-pink itu? Dimanakah mereka bersembunyi ketika jalanan dan tempat-tempat hiburan dipenuhi oleh pasangan muda-mudi yang gegap gempita merayakan Valentine? Tentu saja, mereka tetap berpijak di bumi manusia, melakukan rutinitas hariannya seperti biasa. Terganggu? Ah, sama sekali tidak. Mungkin juga ada yang iya. Tapi, tapi, peduli setan kalau ada yang nyinyir, "Ih, kesian. Jomblo ya? Ke laut sana!" atau "Hahaha. Udah sih ngendon di kolong aja, daripada gigit jari ngeliatin yang lagi Valentine-an." Hina sekali mereka yang nyinyir seperti itu. Nampaknya mereka belum pernah ngerasain digetok pake palunya Thor. Hmmm...

Dear, joms-joms di Indonesia. Tidak perlu meratapi status kita. Apa salahnya menjadi jomblo? Toh menyandang status jomblo juga nggak bikin kita jadi melarat atau ke-kece-an kita jadi berkurang sekian persen kan? Justru menjadi jomblo banyak faedahnya, banyak hikmah yang bisa kita petik, banyak pahala pula. Seperti yang dikatakan oleh teman saya, "jika pacaran haram, maka jomblo memiliki kesempatan lebih besar untuk masuk surga." ―semakin lama jomblo, semakin besar pahala yang kita dapatkan. Boleh diamini, boleh tidak.

Read More ...


Amelia. Powered by Blogger.