Postingan ini bermula dari tweet berikut:



Andri, makhluk purba dari antah berantah dengan tweetnya tersebut sukses membuat saya tadi malam menggebu-gebu streaming video dan ngubek-ngubek Soundcloud demi lagu anak-anak era 90'an.

Saya kangen masa-masa dimana Trio Kwek-Kwek, Saskia dan Giofanny, Cindy Cenora, Chikita Meidy, Joshua, Tasya dan artis-artis cilik lainnya yang setiap weekend muncul di acara musik anak-anak. Dulu, saya nggak pernah ketinggalan nongkrong di depan TV nonton Ciluk Ba yang dipandu oleh Maissy atau Tralala Tralili yang dipandu oleh Agnes Monica. 2 acara tersebut mungkin kalo jaman sekarang sama hebohnya dengan acara musik pagi di TV. Bedanya, 2 acara musik anak-anak tersebut nggak perlu ngeboyong warga sekampung buat joget cuci-jemur-setrika. Dan tentu saja dulu saya juga punya lagu anak-anak favorit yang rajin saya putar di tape bapuk kesayangan sebelum berangkat atau sepulang sekolah. Langsung saja, cekidot!

Read More ...


I want you to know,

with everything I won't let this go.
These words are my heart and soul.
I'll hold on to this moment, you know,
as I bleed my heart out to show,
and I won't let go.

Lagu itu. With Me milik Sum 41. Lagu yang belum pernah kamu dengar. Lagu yang asing di telingamu. Aku menyanyikannya di 6 bulan masa jadi kita. Di beranda kontrakanmu, lewat malam, dengan genjrengan gitar. Kamu tersenyum sumringah. Menahan tawa demi suara cemprengku.

"Lagunya siapa?" kamu bertanya setelah aku selesai dengan nyanyianku.

Read More ...


"Kamu gimana sekarang? Sama siapa?"

"Aku baik. Sekarang lagi sama guling. Hahaha."
"Serius, Nyuk. Tumben betah lama-lama ngejomblo?"
"Lama-lama ngejomblo? Baru 3 bulan ini. Masih bentar, ah."
"Perasaan itu udah lama deh. Biasanya kamu kan cepet MOVE ON."

Oke, cukup. Obrolan di atas adalah percakapan saya dengan Rani, teman akrab saya dari SMP, beberapa hari lalu melalui pesan singkat. Dia tahu, 3 bulan yang lalu saya mengadu terisak tentang perpisahan dan resmi kembali menjalani rutinitas sendiri.
Ada ucapannya yang membuat saya mengernyit, tentang move on dan "lama menjomblo". Teman saya ini, sepertinya melabeli move on dengan "telah menemukan seseorang yang baru". Tidak, saya tidak sependapat dengan pemahamannya tersebut. Umm...

Read More ...


Tulisan ini harusnya sudah saya posting 3 minggu yang lalu. Tapi saya baru berkesempatan melanjutkan postingan ini setelah lama menunggu kiriman foto dari Meme. Dan demi misi mengikuti event menulis yang diadakan oleh @birokreasi, #7HariMenulis. Ah, langsung saja.

******

"Kalo minggu depan Semeru siap nggak kamu?"

Adalah pesan singkat dari Meme kala tengah malam itu yang membuat saya terlonjak dari tidur setelah membacanya sekilas. Lantas dengan cepat mengetik balasan, "SIAAAAPP!!"

Semeru? Duh, ini penantian saya selama 3 tahun yang sedari dulu cuma jadi wacana dan akhirnya kali ini, bak gayung bersambut. Dan tentu saja, antusias ini bukan gegara termakan euforia 5 Cm. BUKAN! Ini impian dari dulu sebelum saya mengenal 5 Cm, jauh. Saya tidak akan menyia-nyiakan tawaran tersebut, meskipun harus dengan pengorbanan menunda mengurus berkas-berkas TA yang harusnya diselesaikan minggu itu juga (yang akhirnya sampai tulisan ini diposting masih belum terurus juga).

Rabu, 26 Desember 2012
Berbekal carrier, matras dan sleeping bag yang serba pinjaman. Rabu pagi saya berangkat sendiri dari Surabaya menuju Malang dengan menumpang bus antar kota. Sesampainya di terminal Arjosari dengan dijemput Rijal, kami menuju kost Faruq yang akan menjadi tempat kumpul kami untuk mempersiapkan semua kebutuhan dan peralatan mendaki. Malamnya, setelah belanja logistik dan menyewa tenda, kami mengepack barang bawaan dan menyusun rundown, dimana kami merencanakan pendakian ini akan berlangsung selama 4 hari, 27 Desember - 30 Desember.

Read More ...


Kalau ada kesempatan untuk membenci, adalah kamu, yang pertama dalam daftar urutan "Orang Yang Layak Dibenci".
Jangan tanya apa alasannya, kamu cukup tau itu, pun mungkin semesta juga mengetahuinya — aku menginginkan kamu enyah dari hadapanku. Atau, melemparmu ke galaksi lain. Sayangnya, kamu masih duduk termenung di otak kananku — menjadi imajinasi. Setelah dengan sukses kamu mengitariku, berlari ke sudut otak kiriku — logis dan linier. Kemudian kamu bersemayam dalam hatiku — bermain-main dengan perasaan. Bahkan sedikitpun kamu tak memberiku kesempatan mengambil jarak. Seperti kamu tertawa puas, "Hahaha. Kamu nggak akan bisa lepas dari aku."
Biadab!

Read More ...


Amelia. Powered by Blogger.