Aku tidak punya kenangan khusus dengan Bapak. Beliau seperti bapak kebanyakan (mungkin), tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Tapi Bapak selalu mengajarkan dan menanamkan sikap tegas kepada anak-anaknya, terlebih mengenai sholat 5 waktu. Bapak tidah pernah tolerir untuk urusan yang satu ini. Bahkan tidak segan memukul jika kedapatan anak-anaknya meninggalkan sholat. Aku punya cerita untuk yang satu ini.

*****

Di satu pagi yang basah karena hujan mengguyur semalaman, aku baru bisa memejamkan mataku tepat 5 menit sebelum azan Shubuh berkumandang. Seperti biasa, dengan headset di kuping memutar kidung pengantar tidur dengan volume yang tidak bisa dibilang pelan. Konserto No. 1 pada E major, Op. 8, RV 269, "La primavera", salah satu set dari 4 konserto Four Seasons milik pendeta sekaligus komponis musik barok dari Italia, Antonio Lucio Vivaldi, yang Shubuh itu tengah membuai telingaku memasuki alam bawah sadar. Tak lama setelahnya, aku seperti bermimpi Bapak berteriak-teriak memanggilku. Aku bergeming, lamat-lamat suaranya lindap diantara gesekan biola sang maestro yang sedang memainkan bagian Largo.

Read More ...


Well, saya sedang dalam pikiran kacau saat ini. Terngiang-ngiang kejadian tadi sore yang menimpa saya, yang membuat saya mengalami traumatis dengan angkot di Surabaya. Nyaris! Bagaimana tidak? Ini kali kedua saya hampir kecopetan. Setelah yang pertama memang benar-benar kecopetan, dengan modus gendam.

Sore tadi, sekitar pukul 4 sore, saya berangkat dari rumah menuju tempat pemberhentian angkot seperti biasanya. Saya hendak ke rumah teman, dalam rangka meminta bantuan untuk skripsi saya. Mulanya saya sempat tak yakin masih ada angkot yang lewat jam segitu, karena memang saya belum pernah naik angkot (untuk berangkat) sesore itu. Tapi demi skripsi, ah, sudahlah...

Angkot datang setelah menunggu 5 menit. Saya lihat tempat duduk depan (sebelah sopir) kosong, hendak melangkah membuka pintu depan, urung. Saya menginjakkan kaki ke pintu belakang, memilih duduk di pojok, bangku panjang. Hanya ada 3 penumpang beserta saya.
Di tengah jalan beberapa penumpang naik dan turun, hingga akhirnya sebelum mencapai terminal (pemberhentian akhir) penumpang terakhir hanya menyisakan saya. Sampai ada mas mas yang naik, duduk di depan saya, di bangku pendek dan sempat ngobrol sebentar dengan sopir angkot tersebut.

Beberapa meter sebelum angkot sampai di terminal, saya menggeser duduk agak maju mendekati pintu, dengan posisi duduk miring —karena saya menyandang ransel di belakang, jadi saya duduk menghadap ke depan (arah sopir) dengan posisi miring. Tiba-tiba si mas mas itu pindah duduk di sebelah saya (berarti di belakang saya, karena saya menghadap ke depan). Tidak curiga awalnya, sebelum saya melirik ke samping sekilas dan seperti melihat tangan mas mas itu seperti mengarah ke depan, memegang ransel saya. Kemudian saya terus menghadap ke samping, si mas mas terlihat tenang. Saya menghadap ke depan lagi dan merasa mas mas ini beneran megang ransel saya, saya menoleh ke belakang dan eng ing eng...

Read More ...


Sebelum pembaca postingan ini menyimpulkan, akan saya luruskan terlebih dahulu, bahwa postingan ini bukan untuk mereview sebuah gigs. Bukan. Saya juga nggak tahu mengkategorikannya sebagai apa.

Sabtu, 19 Januari 2012. Produk apparel ternama yang pusatnya berada di Bandung, hari itu cabangnya yang di Surabaya berpindah tempat. Setelah sebelumnya bertempat di Jl. Bengawan 6, Surabaya. Kemudian dipindahkan ke Jl. Slamet 11 Surabaya. Adalah Ouval Research, launching distro baru tersebut diusung dalam topik New Exhibition Room #4 dengan atmosfir yang lebih fresh dari distro sebelumnya. Launching tersebut dikemas dalam bentuk gigs, yang diisi oleh performance Pure Saturday, The Milo, D'Ubz dan Zorv (Surabaya).

Ketika mendengar kabar tersebut saya antusias ingin mendatangi acara tersebut. Satu minggu sebelumnya, saya menghubungi Rijal, teman saya yang notabene selera musik kami sama. Tapi, karena Rijal sudah harus kembali ke Jakarta pada hari tersebut, jadilah saya termenung memikirkan akan mengajak siapa. Yang jelas, saya tidak ingin mengulang hal yang sama seperti ketika nonton Efek Rumah Kaca dalam acara Campus Edutainment yang diselenggarakan oleh L.A. Light, 2 tahun lalu. Kala itu, karena tidak punya teman yang sama-sama suka musik Indie, saya harus mengajak 2 teman saya yang bahkan tidak mengenal siapa itu ERK, dan demi itu, mereka baru mau berangkat jika saya membelikan eskrim yang iklannya sering muncul di TV. Cih. Licik!

Read More ...


Apa yang ada di otak kalian jika mendengar kata Valentine? Pacar, coklat, bunga, dinner, semua yang serba coklat, yang serba pink, yang serba merah. Cih. Apa pula itu? Kalau yang serba merah saya setuju karena saya suka dengan merah. Terlepas dari agama yang saya anut telah melarang perayaan Valentine, bahkan mengecamnya, toh nggak sedikit pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk asmara dengan gencarnya sibuk menyiapkan tetek bengek untuk merayakan Valentine dengan pacarnya. Sungguh nista. Sungguh mereka tidak ber-perikejomblo-an.

Sedangkan bagaimana dengan nasib jomblowan-jomblowati di hari-serba-pink itu? Dimanakah mereka bersembunyi ketika jalanan dan tempat-tempat hiburan dipenuhi oleh pasangan muda-mudi yang gegap gempita merayakan Valentine? Tentu saja, mereka tetap berpijak di bumi manusia, melakukan rutinitas hariannya seperti biasa. Terganggu? Ah, sama sekali tidak. Mungkin juga ada yang iya. Tapi, tapi, peduli setan kalau ada yang nyinyir, "Ih, kesian. Jomblo ya? Ke laut sana!" atau "Hahaha. Udah sih ngendon di kolong aja, daripada gigit jari ngeliatin yang lagi Valentine-an." Hina sekali mereka yang nyinyir seperti itu. Nampaknya mereka belum pernah ngerasain digetok pake palunya Thor. Hmmm...

Dear, joms-joms di Indonesia. Tidak perlu meratapi status kita. Apa salahnya menjadi jomblo? Toh menyandang status jomblo juga nggak bikin kita jadi melarat atau ke-kece-an kita jadi berkurang sekian persen kan? Justru menjadi jomblo banyak faedahnya, banyak hikmah yang bisa kita petik, banyak pahala pula. Seperti yang dikatakan oleh teman saya, "jika pacaran haram, maka jomblo memiliki kesempatan lebih besar untuk masuk surga." ―semakin lama jomblo, semakin besar pahala yang kita dapatkan. Boleh diamini, boleh tidak.

Read More ...


Jangan ngaku pecinta makanan pedas kalau belum pernah nyobain nasi goreng yang satu ini.


Nasi goreng jancuk. Jancuk yang kalau di Surabaya lebih sering diomongkan dengan jancok, adalah umpatan khas Surabaya. Dan nasi goreng ini menyandang nama jancuk karena rasanya yang super pedas, dan bisa jadi ketika memakannya kita akan mengumpat, "jancuk! pedes, cuk!"

Read More ...


Amelia. Powered by Blogger.