"kretek kretek" di lantai halaman
"kretek kretek" di atap
"kretek kretek" menceracau di setiap kuping mendengar.
"tes tes" di sudut genteng rumah
"tes tes" di daun jendela
"tes tes" menelisik di setiap sudut mata memandang.
Pada buncahan Rahmat yang berkejaran dari gumpalan awan
Gemeretek tak ubahnya peri dengan tarian
Pada setiap tetes yang diiringi malaikat
Menerawang di sela jendela dengan khidmat.
Tapi sembilu kian menyayat
Bayangan dikejarnya tenggelam menepis.
Kaki-kaki basah, bibir memucat
Menyisakan bulir mengintip di sudut pelipis.
Pekat.
Aku seperti memelihara luka, membiarkan rindu dan kecewa bercokol di benak yang sungguh aku
dibuat tersungkur olehnya.
Ketika untaian dari semua doa-doa runtuh, menghujaniku bertubi-tubi tanpa ampun, memaksaku
menenggak air asin yang buncah di sudut mata. Aku bertanya pada detak jam, pada degup jantung, pada helaan napas, kapan cahaya itu datang menjemput? Cahaya yang dijanjikan menyiratkan larik-larik senyum.
dibuat tersungkur olehnya.
Ketika untaian dari semua doa-doa runtuh, menghujaniku bertubi-tubi tanpa ampun, memaksaku
menenggak air asin yang buncah di sudut mata. Aku bertanya pada detak jam, pada degup jantung, pada helaan napas, kapan cahaya itu datang menjemput? Cahaya yang dijanjikan menyiratkan larik-larik senyum.
Akhirnya bisa ngepost tulisan lagi setelah hiatus :)
Saya sedang di salah satu studio musik di sudut kota Surabaya saat ini, menunggu salah seorang teman yang sedang latihan band dengan teman-temannya (yang na'asnya tidak saya kenal sama sekali). Ya, saya sedang dalam rangka menyibukkan diri setelah kejadian menyakitkan 12 hari lalu. Menyibukkan diri dengan teman-teman.
Jujur, aku lebih suka kopi dibanding teh, walaupun secara tradisi teh itu lebih tinggi derajatnya dari kopi.
Di jaman cowboy dulu, hampir semua orang Amerika baru bisa membuka mata dengan sempurna setelah meneguk kopi panas, acara minum kopi menjadi kebiasaan untuk mengawali hari. Tidak ada persyaratan dalam ritual minum kopi. Orang boleh minum kopi meskipun dia belum cuci muka atau bahkan sedang setengah mabuk. Tapi, teh lain dengan kopi.
Dia yang bernama harapan
Menikam secara perlahan
Menjelma menjadi kekecewaan
Dia yang bernama kekecewaan
Menghujam dengan riskan
Membunuh semua kenangan
Dia yang bernama kenangan
Membakar semu bayangan
Menghabisi perasaan, menjadikan kepingan
Maka kini, aku hanyalah sedu sedan
Dalam diam, menggurat kepastian
Menikam secara perlahan
Menjelma menjadi kekecewaan
Dia yang bernama kekecewaan
Menghujam dengan riskan
Membunuh semua kenangan
Dia yang bernama kenangan
Membakar semu bayangan
Menghabisi perasaan, menjadikan kepingan
Maka kini, aku hanyalah sedu sedan
Dalam diam, menggurat kepastian
Amelia. Powered by Blogger.


