Untuk sebagian orang –mereka mungkin menganggap hal ini tidak penting dan buang-buang waktu. Aneh. Mengingat mantan. Mengenang masa dimana kita pernah mencecap romantika bersama seseorang yang dulu pernah mengaitkan jemarinya dengan jemari kita. Seperti membuka peti yang telah kita tutup rapat-rapat dan di dalamnya berisi benda-benda magis yang membuat sel-sel pada serebrum kita diributkan dengan serpihan-serpihan kenangan yang perlahan lindap tergilas waktu.

Barangkali kita bisa duduk sejenak di dalam kamar dengan secangkir teh hangat. Sekedar mengenang yang telah lewat. Menyaksikan kembali sebuah fragmen tentang masa lalu yang kita habiskan dengan seseorang yang dulu lalu-lalang dalam hari-hari kita. Dengan beberapa lagu penghantar yang kita masukkan dalam sebuah playlist. Untuk saya, lagu-lagu penghantar tersebut adalah:

1. Compromised Ego – Remembering All The Kisses
Sebelum terkenal pada ajang pencarian bakat, Isa Raja lebih dulu dikenal sebagai vokalis Compromised Ego dengan nama Inong Loebis. Dan berhasil menelurkan sebuah mini album berjudul A Beautiful Mess. Remembering All The Kisses adalah salah satu lagu pamungkas dalam mini album perdana mereka. Pun liriknya yang mewakili perasaan pedih kala mengingat seseorang yang memilih untuk tak menyamakan langkahnya lagi dengan kita.
I grab my coat and I walk my feet
In to the night, wishing you were there
2. Pure Saturday – Sajak Melawan Waktu
Ada perasaan kosong ketika kita ditinggal atau meninggalkan seseorang. Terbiasa melewatkan hari bersama lantas semua lenyap begitu saja. Sepedih apapun perasaan ditinggal atau meninggalkan, waktu akan terus menuntun kita maju. Melalui Sajak Melawan Waktu, grup musik indie pop asal Bandung ini menemani kita menyusuri lorong gelap dengan tangan terus meraba dinding yang penuh dengan gambar yang dulu kita lukis bersamanya.

Read More ...



Disklemer; bukan review gigs, juga bukan review sebuah acara.


Minggu, 24 Maret 2013, saya melewatkan Sunday Market yang diadakan di Surabaya Town Square (SUTOS). Flea market konseptual terbesar di Surabaya ini mengkombinasikan 4 elemen: fashion, musik, seni dan kuliner. Ada perasaan menyesal telah melewatkan acara yang baru dua kali digelar di Surabaya ini. Alasannya adalah Polyester Embassy. Iya, sudah lama saya menantikan band asal Bandung yang beraliran Electronic Rock Experimental ini. Bahkan, salah satu judul lagu mereka di album Tragicomedy yang membuat saya menamai URL blog ini dengan Polypanic Room(s), the most my favorite song of Tragicomedy.

Saya galau, saya murung karena tidak bisa datang, kemudian saya ngetwit tentang penyesalah telah melewatkan Polyester Embassy malam itu sampai tiba-tiba masuk sebuah mention dari salah seorang teman dengan tweet kurang lebih bilang seperti ini, "nanti dilunasin The Milo 5 April." Buat saya tidak ada pelunasan. Tidak ada yang bisa menggantikan antara yang satu dengan satu yang lainnya. Dua band tersebut punya tempat masing-masing di hati saya. *yaelah, udah kayak pacar aja*.

Baiklah, lupakan penyesalan tentang PE. Jelang 2 hari sebelum hari H The Milo datang ke Surabaya, saya stalking timeline @themiloband. Dan benar saja, mereka ada jadwal main di Ide Art 2013 yang notabene acara karya mahasiswa Desain Produk Industri (DESPRO) ITS. Esoknya saya menghubungi Onne, teman akrab saya dari SMA yang kuliah di ITS dan menanyakan tentang acara tersebut. Singkat cerita saya mengajak Onne untuk menemani saya datang ke acara tersebut.

Read More ...


Katanya, Tuhan ada di linimasa,
barangkali di tab mention kau bisa bercengkrama denganNya.

Katanya, Tuhan ada di linimasa,
barangkali melalui DM kau bisa mengadu tentang rahasia.

Katanya, Tuhan ada di linimasa,
barangkali kau hanya perlu mengintip timelineNya untuk tahu apa yang sedang terjadi pada semesta.

Ah, tentu saja Tuhan ada dimana-mana,
lantas kau hanya merasa perlu berkeluh kesah di linimasa,
kemudian rapalan doa pada sujud hanyalah banalitas belaka.



Aku tidak punya kenangan khusus dengan Bapak. Beliau seperti bapak kebanyakan (mungkin), tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Tapi Bapak selalu mengajarkan dan menanamkan sikap tegas kepada anak-anaknya, terlebih mengenai sholat 5 waktu. Bapak tidah pernah tolerir untuk urusan yang satu ini. Bahkan tidak segan memukul jika kedapatan anak-anaknya meninggalkan sholat. Aku punya cerita untuk yang satu ini.

*****

Di satu pagi yang basah karena hujan mengguyur semalaman, aku baru bisa memejamkan mataku tepat 5 menit sebelum azan Shubuh berkumandang. Seperti biasa, dengan headset di kuping memutar kidung pengantar tidur dengan volume yang tidak bisa dibilang pelan. Konserto No. 1 pada E major, Op. 8, RV 269, "La primavera", salah satu set dari 4 konserto Four Seasons milik pendeta sekaligus komponis musik barok dari Italia, Antonio Lucio Vivaldi, yang Shubuh itu tengah membuai telingaku memasuki alam bawah sadar. Tak lama setelahnya, aku seperti bermimpi Bapak berteriak-teriak memanggilku. Aku bergeming, lamat-lamat suaranya lindap diantara gesekan biola sang maestro yang sedang memainkan bagian Largo.

Read More ...


Well, saya sedang dalam pikiran kacau saat ini. Terngiang-ngiang kejadian tadi sore yang menimpa saya, yang membuat saya mengalami traumatis dengan angkot di Surabaya. Nyaris! Bagaimana tidak? Ini kali kedua saya hampir kecopetan. Setelah yang pertama memang benar-benar kecopetan, dengan modus gendam.

Sore tadi, sekitar pukul 4 sore, saya berangkat dari rumah menuju tempat pemberhentian angkot seperti biasanya. Saya hendak ke rumah teman, dalam rangka meminta bantuan untuk skripsi saya. Mulanya saya sempat tak yakin masih ada angkot yang lewat jam segitu, karena memang saya belum pernah naik angkot (untuk berangkat) sesore itu. Tapi demi skripsi, ah, sudahlah...

Angkot datang setelah menunggu 5 menit. Saya lihat tempat duduk depan (sebelah sopir) kosong, hendak melangkah membuka pintu depan, urung. Saya menginjakkan kaki ke pintu belakang, memilih duduk di pojok, bangku panjang. Hanya ada 3 penumpang beserta saya.
Di tengah jalan beberapa penumpang naik dan turun, hingga akhirnya sebelum mencapai terminal (pemberhentian akhir) penumpang terakhir hanya menyisakan saya. Sampai ada mas mas yang naik, duduk di depan saya, di bangku pendek dan sempat ngobrol sebentar dengan sopir angkot tersebut.

Beberapa meter sebelum angkot sampai di terminal, saya menggeser duduk agak maju mendekati pintu, dengan posisi duduk miring —karena saya menyandang ransel di belakang, jadi saya duduk menghadap ke depan (arah sopir) dengan posisi miring. Tiba-tiba si mas mas itu pindah duduk di sebelah saya (berarti di belakang saya, karena saya menghadap ke depan). Tidak curiga awalnya, sebelum saya melirik ke samping sekilas dan seperti melihat tangan mas mas itu seperti mengarah ke depan, memegang ransel saya. Kemudian saya terus menghadap ke samping, si mas mas terlihat tenang. Saya menghadap ke depan lagi dan merasa mas mas ini beneran megang ransel saya, saya menoleh ke belakang dan eng ing eng...

Read More ...


Amelia. Powered by Blogger.