3 tahun lalu, setelah memberi jeda untuk The Bends dan Ok Computer, saya akhirnya mau beranjak mendengarkan album-album Radiohead yang lain. Dimulai dari Kid A, saya memang tak menyukai album Radiohead pasca Ok Computer. Kecewa karena musik kolektif itu telah mangkat dari instrumen-instrumen menghanyutkan seperti dalam “Bullet Proof… I Wish I Was” dan “Let Down”.

Tak puas dengan Kid A, saya melewati Amnesiac dan Hail to the Thief. Malam itu, saya sedang dibikin gusar oleh seseorang dan menemukan eskapisme pada track ke-3 pada album In Rainbows. Pada menit pertama suara falsetto Thom Yorke berhasil mengantarkan saya pada lautan yang luas, saya tengah melayang-layang di dalamnya, membiarkan diri hanyut ke dalam dasar lautan dengan gerakan slow motion. Mata saya memejam. Kemudian pada verse kedua saya seperti melihat cahaya dari kejauhan. Menit 03.11 saya dihantam mamalia laut raksasa. Ia tak kunjung memamah tubuh saya lantas menghenyakkan tubuh saya asal. Saya kembali terbenam menuju dasar lautan yang sayangnya tak kunjung menemui dasarnya. Iya, tubuh saya melayang begitu saja tanpa arah.

Sialnya, saya selalu merasakan hal serupa setiap kali memutar lagu yang diciptakan tahun 1997 ini. Saya menikmati eskapismenya.


“I'm beginning to think that love for me is a bit like Quantum Mechanics, something I know to exist, but have no idea how it works.” 
― R.E. Wentz, A Tropical Depression
Kun, aku agak kecewa tempo hari, alih-alih mendapat jawaban scientific tentang teori Mekanika Kuantum yang aku tanyakan, kamu menumpahkan ketakutanmu untuk jatuh cinta pada pria, yang katamu sih sudah memenuhi kriteriamu. Iya, pria grizzly bear itu.

Oh, untung saja aku teman yang sangat pengertian. Untuk malam-malam sendumu di Tanah Parahyangan, mungkin kamu perlu kutemani dengan playlist berikut sampai kamu berhasil membunuh perasaanmu tersebut.

1. Amiina – Rugla
2. Sucré – Stuck in the Ocean
3. Jill Andrews – Cut and Run
4. The Honey Trees – Love and Loss
5. First Aid Kit – To a Poet
6. Laura Marling – My Manic and I
7. Sóley – The Sun is Going Down II
8. Lykke Li – Possibility
9. Bat for Lashes – The Haunted Man
10. Amiina - What are We Waiting for?

Silakan mendengarkannya di sini. Semoga kamu selalu kesepian, karena kesepianmu lah yang terus memantik kehangatan di antara kita. Hahaha.


Peluk hangat dari Surabaya,

Amelia.


Addendum:
Aku tahu setelah membaca ini pasti kamu akan memprotes untuk mengirimkan file mixtapenya. Tenang. Lagi-lagi aku adalah teman yang sangat pengertian, silakan mengunduhnya di sini.


Terhitung sudah 3 hari ini saya puasa memutar musik di laptop. Bukan karena laptop saya rusak. Bukan. Juga bukan karena saya terlalu sibuk dengan skripsi sampai-sampai lupa mendengarkan musik. Juga bukan. Semua didasari karena kejadian na'as nan ngehe yang menimpa saya di tahun baru.

Tepat tanggal 1 Januari 2014. Sekitar pukul sebelas siang saya berusaha mengumpulkan kesadaran setelah semalaman begadang mengerjakan revisian dan baru tidur ketika Muazin musholla sebelah menyerukan azan Subuh. Iya, betapa rajinnya saya di malam pergantian tahun baru yang biasanya dilewatkan dengan pesta kembang api atau sekedar nongkrong dengan teman-teman dekat— saya malah bergulat dengan koding yang tak kunjung terpecahkan dan berhasil membuat mata berkunang-kunang, serta nyaris muntah. Dengan setengah kesadaran, tanpa cuci muka dan pipi masih penuh iler saya menyalakan laptop masih dengan posisi tiduran. Berharap di Subuh hari yang penuh berkah ketika saya sedang terlelap tidur sebuah mukjizat menerobos kamar, jatuh tepat di laptop dan sekali saya eksekusi program, taraaaaaa! No error. No warning. Tapi saya ditampar oleh kenyataan, bahwa tak ada mukjizat siang itu dan program saya masih tak berjalan sebagaimana dikehendaki oleh dosen pembimbing seperti sebelumnya.

Read More ...


Untuk sebagian orang –mereka mungkin menganggap hal ini tidak penting dan buang-buang waktu. Aneh. Mengingat mantan. Mengenang masa dimana kita pernah mencecap romantika bersama seseorang yang dulu pernah mengaitkan jemarinya dengan jemari kita. Seperti membuka peti yang telah kita tutup rapat-rapat dan di dalamnya berisi benda-benda magis yang membuat sel-sel pada serebrum kita diributkan dengan serpihan-serpihan kenangan yang perlahan lindap tergilas waktu.

Barangkali kita bisa duduk sejenak di dalam kamar dengan secangkir teh hangat. Sekedar mengenang yang telah lewat. Menyaksikan kembali sebuah fragmen tentang masa lalu yang kita habiskan dengan seseorang yang dulu lalu-lalang dalam hari-hari kita. Dengan beberapa lagu penghantar yang kita masukkan dalam sebuah playlist. Untuk saya, lagu-lagu penghantar tersebut adalah:

1. Compromised Ego – Remembering All The Kisses
Sebelum terkenal pada ajang pencarian bakat, Isa Raja lebih dulu dikenal sebagai vokalis Compromised Ego dengan nama Inong Loebis. Dan berhasil menelurkan sebuah mini album berjudul A Beautiful Mess. Remembering All The Kisses adalah salah satu lagu pamungkas dalam mini album perdana mereka. Pun liriknya yang mewakili perasaan pedih kala mengingat seseorang yang memilih untuk tak menyamakan langkahnya lagi dengan kita.
I grab my coat and I walk my feet
In to the night, wishing you were there
2. Pure Saturday – Sajak Melawan Waktu
Ada perasaan kosong ketika kita ditinggal atau meninggalkan seseorang. Terbiasa melewatkan hari bersama lantas semua lenyap begitu saja. Sepedih apapun perasaan ditinggal atau meninggalkan, waktu akan terus menuntun kita maju. Melalui Sajak Melawan Waktu, grup musik indie pop asal Bandung ini menemani kita menyusuri lorong gelap dengan tangan terus meraba dinding yang penuh dengan gambar yang dulu kita lukis bersamanya.

Read More ...


Cing,
mungkin kau bisa membayangkan bagaimana ekspresiku kala senja telah bersiap pulang ke peraduannya saat itu, di beranda rumah aku menghabiskan sore dengan ibuku dan teman karibnya —yang sekarang aku menyebutnya calon mertuamu. Aku tengah menimang cucu calon mertuamu ketika tiba-tiba ibuku bilang, "Bobby sama Titis mau tunangan loh, El." Aku terperangah barang sejenak, menoleh ke arah ibuku dengan tatapan tidak percaya. Tentu saja karena aku anaknya, ibuku bisa mengartikan maksud tatapanku, sekali lagi, "iya, nggak percaya kan? Tanya aja ke *menyebut calon mertuamu*" sambil berpaling ke arah calon mertuamu untuk menyakinkan aku. Dan calon mertuamu itu tersenyum.

*****

Cing,
aku akan sedikit mengingatkanmu tentang awal perjumpaan kita. Kala itu, kita yang masih bocah ingusan dan sama-sama belajar mengaji di TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an) yang sama, secara tidak langsung aku mengenalmu dari sepupumu yang saat itu adalah teman karibku, satu diniyah denganku. Melihat dari penampilanmu, aku membatin, "pasti dia anak urakan." Kau yang mengaji dengan pakaian casual tidak dengan busana muslim seperti selayaknya anak TPQ. Aku bahkan sempat meremehkanmu, pun karena diniyahmu terpaut satu tingkat dibawahku meskipun kita seumuran. Ah, tapi toh akhirnya kita diwisuda secara bersamaan.

Read More ...


Amelia. Powered by Blogger.