Cing,
mungkin kau bisa membayangkan bagaimana ekspresiku kala senja telah bersiap pulang ke peraduannya saat itu, di beranda rumah aku menghabiskan sore dengan ibuku dan teman karibnya —yang sekarang aku menyebutnya calon mertuamu. Aku tengah menimang cucu calon mertuamu ketika tiba-tiba ibuku bilang, "Bobby sama Titis mau tunangan loh, El." Aku terperangah barang sejenak, menoleh ke arah ibuku dengan tatapan tidak percaya. Tentu saja karena aku anaknya, ibuku bisa mengartikan maksud tatapanku, sekali lagi, "iya, nggak percaya kan? Tanya aja ke *menyebut calon mertuamu*" sambil berpaling ke arah calon mertuamu untuk menyakinkan aku. Dan calon mertuamu itu tersenyum.

*****

Cing,
aku akan sedikit mengingatkanmu tentang awal perjumpaan kita. Kala itu, kita yang masih bocah ingusan dan sama-sama belajar mengaji di TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an) yang sama, secara tidak langsung aku mengenalmu dari sepupumu yang saat itu adalah teman karibku, satu diniyah denganku. Melihat dari penampilanmu, aku membatin, "pasti dia anak urakan." Kau yang mengaji dengan pakaian casual tidak dengan busana muslim seperti selayaknya anak TPQ. Aku bahkan sempat meremehkanmu, pun karena diniyahmu terpaut satu tingkat dibawahku meskipun kita seumuran. Ah, tapi toh akhirnya kita diwisuda secara bersamaan.


Seperti ditakdirkan oleh Tuhan, kita berkesempatan memasuki sekolah yang sama kala SMP. Di situlah awal kita benar-benar saling mengenal, terlebih ketika duduk di ruang yang sama di kelas 8.

Tunggu, tentang kisah cinta monyetmu di kelas 7 dengan seorang kakak kelas yang lumayan menjadi idaman cewek-cewek di sekolah, apakah kau ingat? Kau mungkin bisa berjalan dengan bangga sebagai pemenang di hadapan para cewek yang tengah memperebutkan lelakimu itu di sekolah. Tapi mungkin kau tidak tahu tentang kisah ketika lelakimu itu berusaha flirting kepadaku, tentang dia yang dengan diam-diam menitipkan salam kepadaku melalui teman sekelasku yang notabene adalah tetangganya, tentang dia yang berusaha mencari perhatianku ketika aku berjalan lewat depan kelasnya, dan tentang dia yang pernah sekali (atau dua?) menelpon ke rumahku. Padahal status kalian masih jelas sedang menjalin hubungan. Ih, dasar monyet genit!

Kita bisa tergelak kalau mengingat yang satu ini, tentang persaingan antar gang kita di kelas 9. Tak jelas apa yang sedang dipersaingkan, barangkali pamor gang, seperti layaknya anak ABG yang labil. Betapa konyolnya masa SMP kita.

*****

Cing,
sampai detik ini ketika pertunanganmu dengan Bobby telah berlangsung, aku masih berusaha meyakinkan diriku untuk mempercayai kabar ini. "Cacing? Gadis yang ngaku-ngaku rock 'n roll itu tunangan? Bukankah dia mendambakan masa mudanya untuk perayaan kebebasan atas prinsip revolusionernya yang ia pegang selama ini?" pikirku, "mimpi apa dia secepat ini menyatakan ingin berhubungan selangkah lebih serius?"

*****

Cing,
kalau kau (atau aku) mempercayai yang namanya sahabat, disinilah permulaan istilah itu melekat dalam diri kita. Melewatkan masa SMA bersama di sekolah yang sama, meskipun kita tidak pernah satu kelas. Kau, yang semasa OSPEK sudah berani melanggar peraturan yang dibuat oleh kakak-kakak panitia OSPEK, diharuskan memakai sepatu warna hitam dan dengan gontainya kau melangkah dengan sepatu kets birumu itu dengan gaya rambut jengger ayam ala Agnes Monica yang sedang tren saat itu. Seperti ingin menasbihkan diri sebagai murid bebal, hari pertama OSPEK kau sudah berani menabrak batas peraturan dengan membawa tas sekolah biasa, padahal diharuskan membawa tas kresek warna merah. Kemudian kau digiring ke ruang OSIS dan diberi peringatan.

Itu baru permulaan.

Menginjak kelas 11, kau di IPS sedang aku duduk dengan nyaman di kelas IPA, setelah tidak tinggal di kost lagi dan memilih untuk pulang-pergi dengan motor, kau dengan baik hati menawari jasa tebengan untukku dengan setiap hari memboncengku pulang-pergi karena aku tidak bisa menyetir motor. Aku sangat berterima kasih untuk itu, pun aku mengumpat dalam hati karena kau sering kesiangan ketika menjemputku. Tak jarang kita sering telat sampai di sekolah dan kerap dihukum dari menyapu koridor sekolah, lari keliling lapangan, sampai dijemur di hadapan peserta upacara hari Senin. Aku bahkan benar-benar mengkal ketika PR-ku belum selesai dan berencana mencari contekan sebelum bel masuk tapi kau malah membuat kita terlambat. Apalah dayaku ketika hendak mengomelimu dengan statusku yang hanya seorang nebenger?

Cing,
kita, dua gadis yang sedang dalam masa pencarian jati diri memilih bendera kebebasan untuk menghabiskan masa remaja. Tapi ternyata aku tak seberuntung dirimu. Latar belakang keluargaku yang (cukup) religius dan membuatku terkekang dengan peraturan orang tuaku yang tidak sembarangan membiarkan anaknya kelayapan, sedang kau yang dengan mudahnya memperoleh ijin pulang larut malam demi merayakan pesta tahun baru dengan pacarmu.

Aku dengan merengek meminta bapakku untuk menandatangani angket ekstrakulikuler PA (Pecinta Alam) dan tidak pernah dikabulkan, bahkan tak hanya sekali, tapi dua kali. Sedang kau dengan mudahnya memilih ekstrakulikuler apapun yang kau suka. Seperti meledekku, kau dengan sesuka hati (dan betapa labilnya) berpindah-pindah dari ekskul yang satu ke ekskul yang lain. Terakhir bahkan kau menetap di ekskul yang aku idam-idamkan, ya, ekskul PA. Kemudian tanpa merasa berdosa, kau menceritakan pengalamanmu naik gunung pertama, pengalamanmu mengenal mas-mas dari komunitas pecinta alam di luar sekolah. Kau benar-benar membuatku iri.

Lebih konyol lagi dalam percakapan kita ketika aku menceritakan bagaimana aku dibentuk menjadi anak rumahan oleh keluargaku, tidak diberi kebebasan pergi ke tempat-tempat yang aku mau, dengan santai kau menyeletuk, "enak ya, Mel, jadi kamu. Diperhatiin banget kayaknya, kemana-mana masih dilarang. Kalo ortuku sih nggak, aku mau kemana asal ijin ya dikasih. Pengen deh dilarang-larang kayak kamu." Dengan sedikit dongkol aku menyambar, "gimana kalo kita tukeran aja?"

*****

Cing,
saat aku menulis ini statusmu baru saja berubah menjadi tunangan orang, beberapa jam lalu. Kau masih ingat percakapan kita kemarin di rumahmu? Tentang argumenku atas keputusanmu untuk bertunangan. Siapalah aku ini yang berani melarangmu menuju kebahagiaan yang kau impikan? Seberapa keras aku berusaha menyangkal keyakinanmu atas keputusan yang kau ambil, aku toh tetap tak bisa mengubah pendirianmu. Berapa kali aku menanyaimu, "yakin? Udah srek?" Kau tetap akan bertunangan dengan Bobby atas kesadaranmu sendiri. Bahkan sudah.

*****

Cing,
kau ingat ketika kita sempat terlantar duduk di emperan wartel karena menunggun jemputan yang tak kunjung datang? Kala itu kita baru saja pulang dari ujian simulasi masuk salah satu perguruan tinggi milik instansi pemerintah. Kita yang tanpa disengaja saat itu memakai baju serba hitam, kemudian ada adik-adik bersepeda motor bonceng tiga berteriak ke kita, "Mbaaaak!" sambil mengacungkan jari salam metal dan membuat kita tergelak. Sambil berbincang tentang Aji, teman sekelasmu yang menganut aliran Punk dan gaya rebelnya yang membuat kita kagum.

Cing,
entah aku sudah menceritakan ini atau belum kepadamu. Berkali-kali kau membuatku iri. Ketika hendak memasuki bangku perkuliahan, malam itu aku merengek ke bapakku untuk dibolehkan kuliah di Malang. Kenapa? Karena 80% teman-temanku memilih kota yang adem itu untuk melanjutkan studinya. Kau tentu boleh meledekku, "dasar anak nggak punya pendirian! Kuliah kok cuma ikut-ikutan temen." Karena tak diijinkan, malam itu aku menangis meraung seperti anak kecil di hadapan bapak dan ibuku. Seperti yang sudah-sudah, kau dengan penuh kebebasan memilih salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja tanpa perlu cek-cok dengan orang tuamu. Kau bahkan tak perlu repot mengikuti ujian SNMPTN, karena sudah mantap dengan pilihanmu itu.

Kemudian kau melalang buana ke kota yang sama sekali tak pernah kau kunjungi, pun juga tidak ada sanak-saudaramu disana. Sedang aku harus ikhlas memilih salah satu universitas swasta di Surabaya karena gagal lolos SNMPTN. Kita tak pernah lagi menghabiskan waktu berdua seperti masa SMA, kau sibuk dengan dunia barumu, juga aku dengan teman-teman baruku.

Entah kebetulan apa yang membuatku dikenalkan oleh seorang teman dengan lelaki yang notabene tengah belajar di universitas kenamaan di Jogja. Aku mulai memberontak demi cinta gorilla (kalau tak mau disebut cinta monyet), melanggar aturan dengan berbohong menginap di rumah teman padahal sedang dalam perjalanan menuju Jogja. Dengan diantar olehnya aku berkeliling mencari alamat kost-mu. Kita berpelukan seperti lama tidak bertemu, padahal baru beberapa selang waktu kita sama-sama pulang ke kampung halaman.

Cing,
kau tentu tahu betul bagaimana kisahku ketika menjalin hubungan dengan lelaki tersebut —yang berakhir menyakitkan. Tentang aku yang berubah menjadi anak pemberontak karena harus berbohong demi kunjungan ke Jogja. Tentang aku yang berubah dari anak rumahan tiba-tiba menjadi anak yang ketika di Jogja suka ikut nongkrong metalheads salah satu komunitas metal Jogja di depan Amplas (Ambarukmo Plasa) ketika malam minggu. Tentu kau juga tahu tentang aku yang sedang gemar-gemarnya mendengarkan musik metal. Bukankah aku pernah mengajakmu nongkrong dengan mereka? Ingat kan? Bahkan kemudian kau sempat jatuh hati dengan beberapa di antara mereka. Hahaha.

Ah iya,
tentang track record pacaranmu. Berapa banyak mantanmu? Aku bahkan tak bisa menghitungnya. Sudah berapa kali kau gonta-ganti pacar lalu putus dengan berbagai alasan, mulai dari alasan menyakitkan sampai alasan yang konyol; bosan, katamu. Terhitung ketika di Jogja, aku masih dengan satu orang yang sama, kau sudah beberapa kali jadian-putus dengan beberapa lelaki. Ah, Cacing, kau tidak tahu kan kalau lelakiku —mantanku itu sempat menilaimu sebagai cewek gampangan karena tingkahmu yang satu itu?

*****

Aku kira kita sependapat tentang cara menghabiskan masa muda kita dengan tidak diributkan bagaimana mengatur neraca keuangan rumah tangga atau memikirkan 'besok mau masakin apa buat suami?' *sending*
Kemudian kau membalas, "kamu nggak ngerasain kayak yang aku rasain sekarang sih, Mel. Dimana aku bener-bener yakin milih Bobby sebagai pasanganku secara serius. Dan lagi, aku tetep bisa menghabiskan masa mudaku sama dia kok." Aku menghela napas panjang.

*****

Cing,
kapan kau terakhir berkunjung ke rumahku? Seingatku ketika kita duduk berdua di kamarku selepas senja. Dalam percakapan yang asyik di sela-sela adzan maghrib, tiba-tiba kau melontarkan pertanyaan, "Mel, kamu kalo sholat maghrib jamaah nggak sama bapak ibumu?" Aku menjawab, kadang-kadang, dan kau melanjutkan dengan menceritakan pengalamanmu sewaktu berkunjung ke salah satu temanmu dan diajak sholat berjamaah dengan keluarganya. Excited! Kemudian kau mengadu tentang jarangnya kau melaksanakan sholat ketika di rumah, kau berharap bisa sholat berjamaah dengan bapak dan ibumu. Dan dengan sok-bijaknya aku menasehatimu padahal sholatku sendiri kadang-kadang masih suka bolong.

Kucing,
setiap orang yang dekat denganmu pasti tahu bahwa kau sangat menyukai kucing. Kau dengan mahir bisa  membedakan mana kucing jantan, mana kucing betina. Kau juga hafal dengan nama-nama kucingmu, bahkan yang sudah mati sekalipun. Tentu kau belum lupa, dikunjungan terakhirmu ke rumahku itu kau menemukan anak kucing yang —sorry— ditelantarkan oleh keluargaku. Kau hendak mengadopsinya dan memberi nama Wira, hasil dari sepenglihatanmu pada banner kampanye nama salah satu pasangan calon bupati-wakil bupati di tempat kita yang tertempel di depan rumahku. Wira kecil kau titipkan kemudian kau pergi kencan dengan Bobby. Aku yang tidak punya perhatian tinggi dengan kucing, mengacuhkannya. Setelahnya, kau pulang dan mampir mengambil Wira yang ternyata sudah hilang. Karena kesalahanku yang mengabaikannya.

Sepertinya, itu saat terakhir dimana kita lama menghabiskan waktu berdua, bukan?

*****

Cing,
aku mengenal Bobby lebih dulu sebelum kau mengenalnya. Ibunya berteman baik dengan ibuku sejak lama. Hanya sebatas itu, aku tidak mengenalnya secara personal. Dari cerita ibuku selama ini, Bobby adalah anak yang cukup baik jika dibandingkan dengan adiknya yang bebalnya minta ampun itu. Tapi, Cing, entah aku menyebutnya apa perasaan mengganjal ini ketika mendengar kabar tentang rencana pertunangan kalian. Apa karena kau lebih tua setahun dari Bobby? Entahlah. Barangkali ketika aku tahu kalian berpacaran, tak ada masalah. Bukankah hubungan kalian belum genap satu tahun? Apa kau tidak terlalu buru-buru memutuskan bertunangan? Aku cukup menyadari posisiku yang seharusnya tak perlu berusaha untuk meruntuhkan keyakinanmu, siapa aku ini? Cuma seorang teman yang dulu sering merepotkanmu untuk mengantar-jemput ke sekolah. Mungkin juga aku terlalu dramatis, melihatmu sebagai cerminan atas diriku, seorang perempuan yang punya kebebasan tanpa perlu serius memikirkan yang namanya 'perasaan terikat dengan satu lelaki' di usia kita yang akan menginjak angka kembar, 22. Masih terlalu muda, pikirku, Indonesia masih luas untuk bisa dihabiskan di masa muda kita ini. Apa kau tak berkeinginan untuk bervakansi?

Kau seharusnya tahu, Cing,
dulu aku menginginkan bisa menjadi seperti dirimu meraih apa saja yang aku mau tanpa perlu repot dimarahi orang tua. Dan sampai sekarang, ketika aku bisa naik gunung seperti yang aku idam-idamkan dulu, aku harus melalui proses ijin yang rumit dan terpaksalah aku harus berbohong lagi. Sedang kau, Cing? Semenjak duduk di bangku kuliah rasanya aku sudah tak pernah lagi mendengar cerita-ceritamu tentang gunung. Meski begitu, kau tetap bisa menikmati masa mudamu dengan bentuk lain, hidup di jalanan dengan teman-teman Punk-mu. Terdengar lebih liar kan? Tapi entahlah, sebagai teman, aku seperti kagum dengan kehidupanmu itu. Free as a bird, kalau kata John Lennon.

Meskipun begitu, bukan berarti kau tidak pernah merasa tersakiti, bukan?
Aku ingat ketika tengah malam kau menelponku, menceritakan tentang Wisnu, lelaki dengan badan penuh tatto yang amat kau cintai itu mengkhianatimu. Kau menangis? Rasanya aku tak pernah melihatmu menangis karena alasan lelaki. Kau seperti sudah yakin dengannya, bercerita tentang hubungan kalian dengan antusiasme tinggi dan mata berbinar ketika kalian baru saja menjalin hubungan. Tipe lelaki yang kau cari selama ini, katamu waktu itu. Aku bahkan sempat membaca catatan harianmu di buku yang kau geletakkan di meja ruang tamu ketika aku berkunjung ke rumahmu. Tulisan-tulisan dengan pujian menyanjungnya yang membuatku tersenyum ketika membacanya. Pun ketika kau diwisuda atas kelulusanmu menyelesaikan pendidikan D3, kau mengundangnya dan mengenalkannya pada keluargamu tanpa perlu riskan memikirkan pendapat keluargamu tentang tubuhnya yang bertatto penuh.

*****

Cing,
mungkin yang menjadi musabab keraguanku atas keputusanmu adalah pengalamanmu dengan Wisnu tersebut. Kau merasa yakin dengan satu lelaki dan kemudian kau dikhianati. Aku tak berharap Bobby seperti itu, kaupun sudah menjelaskan bagaimana Bobby memperlakukanmu selama ini —tidak sama seperti Wisnu memperlakukanmu dan tidak sama seperti 2 lelaki mantan yang aku percayai beberapa tempo yang lalu.

Mungkin juga yang mengganjal di perasaanku atas pertunanganmu karena aku terlalu berlebihan menilai prinsip kebebasan yang kau anut selama ini, bahwa sebenarnya kaupun tak lebih seperti seorang putri yang menunggu pangerannya.

Atau mungkin aku terlalu munafik untuk mengakui bahwa aku sebenarnya tidak rela seorang teman karibku, teman yang selalu 'klop' dalam setiap percakapan; dari ke-sok-tahu-an kita tentang issue politik, tentang musik, tentang tokoh-tokoh yang kita idolakan, tentang revolusi anak muda dan hal-hal konyol lainnya —akan segera mengakhiri masa lajangnya. Mungkin aku terlalu takut melepas seorang teman demi kebahagiaannya mengarah ke satu hubungan yang serius, yang semua orang pasti menginginkannya, pasti melewati hal semacam ini. Mungkin aku merasa tertinggal.

*****

Cing,
aku menulis ini untuk perasaan yang dalam obrolan kemarin tak sempat aku ucapkan. Karena kau terlalu sibuk mempersiapkan acara pertunanganmu. Aku yang sebenarnya ingin berlama-lama (saking tidak tahu dirinya) menghabiskan malam denganmu harus mengalah karena kau ingin bertemu dengan Bobby. Lihat, kau sudah bukan Cacing yang banyak waktu untuk percakapan kurang penting seperti dulu. Ya, aku memakluminya.

Semoga, dengan ini, kau benar-benar memperoleh kebebasan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Tentu saja, kau sekarang sudah tidak melewati jalan setapak seorang diri. Di sampingmu, seorang lelaki dengan kokoh menggandengmu, menuntun jalanmu agar kau tidak terantuk dan tidak akan pernah membiarkanmu terjatuh. Melangkah dengan pasti menuju tempat dimana pelaminan, anak, serta hal-hal yang bisa membuatmu tersenyum lebih sumringah telah menunggu.


Kecup hangat,
Amel.



Leave a Reply

Amelia. Powered by Blogger.